Piala Walikota Surabaya Ke-5 2008

•Juni 19, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Piala Walikota Surabaya ke-5 telah diselenggarakan dengan sukses dan lancar. Bertempat di Gedung Telkom Ketintang Surabaya, kejuaraan yang awalnya hanya mempertandingkan kategori pasangan ini, kali ini diselenggarakan untuk kategori patkawan. Babak penyisihan diselenggarakan pada hari Sabtu, 14 Juni 2008 dengan menghasilkan 7 tim plus 1 tim tuan rumah yang bertanding di final secara round robin.

Kedelapan finalis itu adalah PLT Jakarta, Jateng Putri, Intan Surabaya, Jateng Putra, Djarum Semarang, GBS Flexi Surabaya, WBC Sidoarjo, dan tuan rumah GBS Surabaya. Tampil sebagai juara adalah PLT Jakarta yang diperkuat Denny Sacul, Munawar S, Taufik Asbi, Robert Tobing, WD Karamoy. Tim ini tampil dominan, dengan menyisihkan tim Jateng Putra dan Jateng Putri sebagai peringkat kedua dan ketiga.

Selain partai final, pada hari minggu juga mempertandingkan pasangan dengan sistem swiss pair 6 sesi. Tampil sebagai juara adalah Tri H – Bb Sis (Malang), Kamal Fauzi – Fachrur Rozi (Yogyakarta) dan Anang Fahmi – Suyadi (Surabaya).

Menurut Jhony Girsang, Ketua GBS Surabaya, dengan perubahan format kejuaraan Piala Walikota Surabaya ini maka frekuensi pertandingan berlevel nasional di Jawa Timur bertambah. Selama ini Surabaya hanya mempunyai Kejuaraan Piala Pahlawan sebagai kejuaraan berlevel nasional. Sehingga diharapkan, kualitas pemain bridge di Surabaya pun bisa mengejar ketertinggalannya dari daerah lain.

Harapan panitia pun ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Kualitas pertandingan terjaga dengan kehadiran tim dari Jakarta, Semarang, Yogyakarta, Kaltim, dan beberapa tim dari beberapa kota di Jawa Timur.

[kkpp, 16.06.08]

Jay

•Juni 10, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Bagi banyak orang, “jay” banyak digunakan sebagai nama panggilan yang gaul. Entah nama panjangnya Zainal, Sanjaya, Jaelani, ehm… apalagi ya. Menurut kamus Inggris-Indonesia, “jay” adalah kata benda yang merujuk salah satu jenis burung yang ribut bunyinya.

Sementara di kolom majalah Marketing terbitan Mei 2007, Handi Irawan menulis tentang “Jay Customer“. Menurutnya, jay customer adalah adalah istilah yang digunakan bila konsumen sudah memperlihatkan perilaku yang merugikan orang lain. Termasuk dalam kategori ini adalah para konsumen yang suka berbohong. Misalnya mencuri umur untuk mendapatkan tiket menonton bioskop pun juga untuk tiket pesawat. Atau juga mengaku sebagai seseorang untuk mendapatkan fasilitas sebuah klub atau perkumpulan. Perilaku yang sering ditemui lainnya adalah berbohong untuk mendapatkan garansi atau untuk klaim asuransi kendaraan.

Selain berbohong, Handi Irawan juga mengkategorikan jay customer untuk perilaku mencuri dan merusak. Perusahaan yang sering mengalami kerugian karena hal ini adalah PLN, peritel besar, KAI, perusahaan penerbit kartu kredit, perbankan, operator telepon seluler, penyelenggara acara musik dan olahraga. Perilaku tersebut tampak di sekeliling kita. PLN misalnya, pencurian listrik tidak saja dilakukan oleh konsumen kecil namun juga konsumen besar. Tak jarang pula kita menemui beberapa orang yang tampak tidak bersalah ketika menunggak sejumlah besar tagihan kartu kredit tanpa susah untuk mendapatkan kartu ketiga, keempat dan seterusnya.

Handi Irawan yang saat menulis kolom itu masih menjabat sebagai Chairman Frontier Consulting Group mengkorelasikan bahwa jay customer terkait dengan perilaku masyarakat yang tidak tertib dan egois. Karenanya banyak perusahaan di Indonesia yang sedang dan berpotensi menghadapi jay customer ini.

Bagi perusahaan yang tengah berusaha meningkatkan pelayanannya, jay customer yang tidak tertangani justru malah membuat perusahaan menjadi apatis. Di tengah krisis listrik, nilai kerugian PLN akibat tindak jay customer ini cukup signifikan. Sehingga saat PLN berkeinginan untuk menaikkan harga jual listrik banyak ditentang berbagai kalangan dengan alasan bila PLN dapat menangani kerugian karena listrik hilang, kenaikan harga tidak perlu dilakukan.

Di bisnis perbankan, kenaikan jay customer ini memunculkan bisnis debt collector yang kian subur. Sementara bagi peritel besar, mengalokasikan 2% sebagai biaya ongkos kehilangan stok. Bagi KAI, jay customer menyebabkan sulitnya pengembangan perusahaan akibat banyaknya penumpang gratisan serta keengganan potential customer melirik moda transportasi kereta api yang terlihat kumuh. Sedangkan di bisnis asuransi, jay customer menyebabkan tingkat kepercayaan perusahaan kepada customer rendah akibat memukul rata bahwa semua customer adalah jay customer padahal perilaku itu juga ditunjang oleh salesperson yang takut kehilangang pelanggan.

Memang situasi yang cukup sulit bagi perusahaan. Namun penanganan yang benar justru akan menyebabkan pertumbuhan bisnis. Beberapa tahun yang lalu, sepakbola Inggris menghadapi sejumlah besar kerugian akibat hooligan, yang dapat dikategorikan sebagai jay customer. Suporter yang sering berbuat rusuh, merusak sejumlah fasilitas, dan aksi vandalisme lainnya ditangani dengan baik. Hasilnya kini Liga Inggris tumbuh menjadi Liga utama yang menjadi impian pemain berbakat di seluruh dunia dan menjadi bisnis yang tumbuh dengan menggiurkan yang mampu mengundang sejumlah investor asing.

Untuk menghadapi jay customer, Handi Irawan menawarkan agar perusahaan menghindari customer yang berkategori buruk tersebut karena tidak akan memberikan laba bagi perusahaan. Karenanya, perusahaan harus mampu mendeteksi dan mempelajari calon pelanggan. Perusahaan juga harus melakukan edukasi dan mampu mengkomunikasikannya. Serta yang terakhir, bagaimana perusahaan bisa menegakkan aturan tetapi tidak menjadi perusahaan yang birokratis.

Sebagai penutup, Handi Irawan menyampaikan bahwa penggunaan teknologilah cara ampuh meminimalkan jay customer, karena semua sistem yang serba manual memberikan peluang besar bagi pelanggan untuk berperilaku tidak tertib dan bertindak layaknya jay customer.

Bila Indonesia adalah perusahaan, mampukah pemerintah menangani jay customer-nya? Bagaimana menurut Anda?

[kkpp, 10.06.08]

Nylimur

•Juni 5, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Nylimur memang bahasa Jawa. Arti bebasnya sih adalah mengalihkan perhatian, mengalihkan pokok pembicaraan sehingga hal utama yang sedang menjadi bahasan terlupakan. Biasanya sih dipakai anak-anak manakala ditanyakan tentang sesuatu hal yang dirasa memojokkannya. Anak saya yang belum genap empat tahun misalnya, saat ditanya siapa yang mencoret dinding, serta merta kemudian nylimur dengan bercerita keinginannya memelihara kelinci. Begitu halnya anak teman sekantor yang seumuran dengan anak saya bila ditanya apakah mau makan apa misalnya, jadinya malah nylimur bercerita tentang mobil bagus yang tengah lewat di jalan.

Sindrom nylimur ini ternyata tidak hanya menjangkiti anak-anak. Beberapa orang dewasa pun ternyata mengidap kebiasaan yang sama. Ketidakmampuan menghadapi pokok permasalahan dialihkan dengan harapan sang audiens akan terlupa pada pokok permasalahan. Bila sang audiens tipe pelupa, atau tipe yang suka larut dalam perbincangan, atau tipe yang tidak fokus pada permasalahan, trik nylimur ini sering berhasil.

Seorang rekan di kantor, bila mendapatkan komplain dari customer, sering menggunakan trik ini. Tekniknya adalah dengan mengetahui benar pokok-pokok apa yang menjadi kesukaan sang pengomplain, sehingga bisa dengan mudah berkelit dari pokok yang dipermasalahkan. Bila tahu benar, seringkali trik ini berhasil dan komplain pun redam dengan sendirinya. Kadang sih tidak berhasil. Tapi tak ada salahnya untuk dicoba. Hehehe.

Dan ternyata bila diperhatikan, kita pun adalah bangsa yang suka nylimur dan di-slimurkan. Contoh sederhana adalah apa yang terjadi pada hari Minggu (1/6) yang lalu. Aksi kekerasan yang dilakukan FPI pada massa aksi yang dilakukan oleh Aliansi Kebangsaan dan Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan (AKKBB) yang kemudian disebut www.kompas.com sebagai Tragedi Monas, kemudian banyak di-slimur-kan dengan isu pembubaran Ahmadiyah, dan juga isu Islam versus Pluralisme. Padahal, terlepas perdebatan panjang tentang isu-isu lain yang terkait, masalahnya sebenarnya sederhana: perbedaan pendapat bukanlah seharusnya dilakukan dengan kekerasan. Titik. Atau dengan kata lain: penggunaan kekerasan untuk menyelesaikan permasalahan bukanlah sebuah cara yang seharusnya dipilih bangsa ini.

Bila Anda tak suka tawuran antar pelajar dan merasa ngeri pada saat berada di antara dua kelompok yang saling lempar batu tersebut, tentunya bisa menerima klausul tadi (baca: kekerasan bukanlah cara yang diambil untuk menyelesaikan perselisihan) terlepas apa penyebab tawuran antar pelajar itu (bisa jadi karena rebutan pacar, rebutan angkot, kalah main bola, dan sejuta penyebab lain yang bisa terkait).

Dalam konteks nylimur itu tadi, bagi penyuka teori konspirasi, jangan-jangan aksi hari Minggu itu adalah salah satu cara pemerintah untuk nylimur dari demo-demo menentang kenaikan BBM, yang belakangan pemerintah kewalahan menanganinya, bahkan upaya nylimur dengan melakukan penggerebekan Bea Cukai oleh KPK pun tidak cukup untuk mengalihkan perhatian.

Bagi media, budaya nylimur ini pun lebih menarik dibandingkan dengan terus mencermati kejadian yang telah berlalu. Bagi mereka, selama bisa jualan sesuatu yang panas, buat apa menjual yang sudah dijajakan kemarin.

Ah, nylimur, nylimur. Ada yang tahu padanan katanya dalam bahasa Indonesia apa?

[kkpp, 05.06.08]

Malam ini Sepuluh Tahun yang (ber)Lalu

•Mei 21, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Malam ini sepuluh tahun yang lalu, jatuh pas selasa malam, malam rabu.

Masih ingatkah, Kawan, ada di mana kita dan apa yang tengah kita lakukan?

Baru saja, seorang kawan yang telah berpisah jarak, sengaja menelepon dari telepon genggam -teknologi yang masih mahal sepuluh tahun yang lalu, bandingkan dengan mahasiswa kini yang tidak cukup dengan satu ponsel yang dipunya- menanyakan apakah ada peringatan yang tengah kita persiapkan.

Tidak, jawab saya ringkas. Buat apa merayakan kegagalan. Sepuluh tahun sudah berlalu, mimpi Indonesia yang lebih baik tak kunjung mewujud. Reformasi yang diagendakan entah kini jadi bermakna apa.

Malam ini sepuluh tahun yang lalu. Kantin ITS terasa hiruk pikuk. Meja dan kursi yang ada tak menyisakan ruang. Wajah-wajah penuh semangat bersliweran. Yang baru kenal atau kenalan lama. Yang kenal luar dalam atau yang hanya tahu wajah tanpa kenal nama.

Sedangkan setahun terakhir kantin terasa lengang. Hanya beberapa pasang yang lagi mojok. Lebih ramai pas arek bridge mulai berlatih lagi. Kadang juga diramaikan oleh ormek, yang sepuluh tahun lalu tak bernyali untuk buka forum secara terang-terangan di kantin.

Ya, sepuluh tahun telah berlalu. Banyak hal telah berubah. KAMI pun berusia sepuluh tahun, bila malam ini masih eksis. Masih relevankah kehadirannya kini? Masih perlukah Komite Aksi bila tak ada aksi?

Malam ini sepuluh tahun sudah berlalu. Sang Penguasa Orde telah berpulang menghadap Sang Maha Kuasa. Beberapa kawan yang sepuluh tahun lalu turut ada dalam hari-hari terpanas rezim, juga telah mendahului kita untuk menghadap Sang Maha Kuasa. (Indri n Ember: kalian senantiasa ada)

Sementara kita hanyalah antri di belakang menunggu waktu. Akankah kita menunggu waktu tanpa berbuat sesuatu? Melupakan apa yang pernah kita teriakkan sepuluh tahun yang lalu. Membuang jauh-jauh apa yang pernah kita citakan dalam berbagai rapat merencanakan aksi sebagaimana malam ini sepuluh tahun yang lalu?

Sepenuh hati saya percaya, kawan-kawan yang aktif di milis ini (baca: milis kumpulannya bekas pelaku aksi 98an), kawan-kawan yang senantiasa bercerita melalui blog masing-masing, kawan-kawan yang berkisah dengan antusias tentang aktivitasnya kini manakala bertemu, masih mengingat malam ini sepuluh tahun yang lalu. Sepenuh hati saya percaya, sendiri atau bersama mereka masih berjuang mewujudkan Indonesia yang dicitakan dengan cara yang berbeda-beda.

Dan malam ini saya ikhlas, perayaan sepuluh tahun malam ini diperingati dengan melupakan bahwa masih ada mahasiswa yang bergerak dengan semangat malam ini sepuluh tahun yang lalu. Tak perlu lagi berharap masih ada adik-adik yang bakal melanjutkan tapak-tapak yang pernah kita buat. Tak perlu lagi memaki mereka, karena tak ada lagi hubungan yang menautkan malam ini dengan malam ini sepuluh tahun yang lalu.

[kkpp, Sidoarjo, 19 Mei 2008. Pernah diposting di sebuah milis terbatas]

Kemenangan untuk Jabar Putri

•April 29, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Selain telah menyelesaikan patkawan mahasiswa putra dan putri, pada hari kedua kemarin (28/4) kategori patkawan putri juga telah menghasilkan juara yaitu tim Jabar yang memimpin final round robin selama 5 sesi. Jabar yang bermaterikan pemain Setiatin, Hayati, Anggi, Yenna, Chaerani dan Firly menyisihkan tim IBWI 3 dan Jaksel 2.

Kemenangan bagi Jabar ini terasa menyakitkan bagi tim IBWI 3 dan Jaksel 2, karena hanya berselisih hanya 3 VP. Jabar menyelesaikan babak final dengan raihan 84 VP. Sedangkan IBWI 3 dan Jaksel sama-sama mengantongi 81 VP, tetapi IBWI mempunyai nilai moyen yang lebih bagus.

Babak final ini diikuti oleh 6 tim, tiga yang lain adalah Jaksel 1, Enggang Putri Pontianak, dan Jateng.

[kkpp, 29.04.08]

Unsrat Sandingkan Juara Patkawan Mahasiswa

•April 28, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Universitas Sam Ratulangi Menado (Unsrat) menyandingkan gelar juara patkawan putra dan putri di Kejurnas Mahasiswa Ke-10 di Banten. Meski harus mengakui keunggulan ITB, 10-20 di sesi ketiga dari babak final yang diikuti empat tim secara round robin, Unsrat mengumpulkan total 57 VP.

Hasil ini juga memaksa ITB harus puas sebagai runner up dengan 51 VP. Posisi ketiga ditempati STIS Jakarta dengan 39 VP.

Tim putri Unsrat meski tampil sebagai juru kunci dari babak final, namun telah memastikan sebagai yang terbaik dari seluruh tim patkawan putri yang tampil.

Hingga tulisan ini dibuat hasil penyisihan pasangan putra dan putri mahasiswa masih belum dapat diketahui.

[kkpp, 28.04.08]

Finalis Patkawan Mahasiswa di Kejurnas Mahasiswa Ke-10

•April 28, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Hingga berita ini diturunkan pada hari kedua, finalis patkawan mahasiswa telah berhasil ditentukan. Unsrat Menado tampil sebagai peringkat satu disusul oleh ITB, STIS Jakarta dan Unsrat Ladies memastikan tempat keempat sekaligus menempatkan dirinya sebagai yang terbaik di kategori patkawan putri.

Kepastian sebagai juara patkawan putri yang dicapai oleh Unsrat ini, diakibatkan oleh terbatasnya peserta sehingga babak penyisihan dilangsungkan bebarengan dengan patkawan putra. Babak penyisihan dilaksanakan dalam enam sesi secara swiss, diukuti oleh 25 tim patkawan putra dan 5 tim patkawan putri.

Sementara itu, di antar klub, baru menyelesaikan penyisihan pertama secara swiss. Dari 61 klub yang bertanding, 32 besar tim melanjutkan ke penyisihan tahap 2 yang dilangsungkan secara round robin dalam 4 pool.

Pada kejurnas yang diselenggarakan di antara teduhnya pepohonan di kawasan Serpong Tangerang ini, Jawa Timur hanya diwakili oleh 3 tim mahasiswa dan 2 tim antar klub.

[kkpp, 28.04.08]

Saksikan Kejurnas Bridge Ke-46 Secara Langsung

•April 23, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Layaknya pertandingan bola, pertandingan bridge juga termasuk layak tonton. Dalam pertandingan resmi, umumnya yang ditonton adalah open room dengan mengitari meja bridge yang dimaksudkan tersebut. Bila yang bermain adalah pemain top, bisa jadi ada beberapa lapisan penonton yang harus berdiri.

Suasana ini tentu saja tidak cukup mengenakkan. Sejak beberapa tahun yang lalu, diperkenalkan teknologi vugraph. Jadi penonton tak perlu lagi berdesakan di sekeliling meja, cukup menonton di layar lebar sambil menikmati komentar dari komentator. Malah dengan menonton dengan vugraph, distribusi kartu akan muncul di layar sehingga analisis permainan pun jadi lebih menarik. Teknologi ini awalnya hanya dapat disaksikan di lokasi pertandingan, tanpa harus merapat ke sisi meja.

Kini, teknologi vugraph juga diadopsi oleh Bridge Base Online (BBO). Karenanya kita dapat melihat permainan bridge cukup dari depan layar komputer yang terlah terkoneksi dengan internet.

Sebagaimana kejuaraan-kejuaraan level nasional yang telah menggunakan teknologi ini, Kejurnas Bridge Ke-46 yang bakal diselenggarakan di Tangerang, Banten beberapa hari mendatang (tanggal 26 April 2008), juga dapat dinikmati secara live melalui BBO. Adapun jadwal lengkapnya, silahkan kunjungi http://online.bridgebase.com/vugraph/schedule.php. Tapi tidak semua pertandingan bakal ditayangkan via BBO ini. Hanya Kejurnas Antarklub, sejak 16 besar, dan Kejurnas Antar Provinsi saja.

Di sisi yang lain, sayangnya, penggunaan teknologi vugraph ini belum dilirik oleh media televisi nasional untuk menayangkan bridge dengan lebih menarik (biasanya liputan televisi hanya menayangkan deretan meja bridge dengan sesekali menyorot sang pemain).

Bila tak puas dengan menyaksikan langsung via internet yang makan bandwidth, silahkan saja datang langsung ke Gedung Puspiptek Serpong Tangerang untuk menyaksikan secara langsung. Masih ada waktu untuk bersiap berangkat. Ayo!

[kkpp, 23.04.08]

tak kuasa

•April 7, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

berjingkrak jangkrik

dalam kelam malam

menyanyi menanti

dusta kata

penguasa tak kuasa

empati telah mati

lobby ialah robi

uang bergelimang

menghamba bagai sang domba

srigala berhala

 

jangkrik berjingkrak

tubuh merapuh

lunglai terkulai

 

menanti

sosok esok

 

kapan

penguasa berkuasa

benar ialah tenar

adil bukanlah bedil

berani tuk nurani

 

[kkpp, 04.04.08]

Mbah Jingkrak

•Maret 31, 2008 • Tinggalkan sebuah Komentar

Di perusahaan tempat saya kini mencangkul, ada budaya untuk berburu makanan dan atau tempat makan yang enak. Maklum, kesibukan kerjaan yang sering keluar kota terkadang terlihat melelahkan. Tak salah bila kami menempatkan acara berburu makanan dan tempat makanan yang khas sebagai hiburan diantara padatnya pekerjaan.

 

Biasanya kami saling berbagi informasi mengenai tempat buruan. Dari rekomendasi seorang kawan kantor itulah, akhirnya beberapa minggu yang lalu, saat saya berkesempatan untuk melakukan kunjungan dinas ke Madiun, saya mencoba menelusuri informasi tentang Mbah Jingkrak.

 

Semula yang terpikir adalah tempat makan tradisional yang harus nylempit masuk  ke gang. Namun perkiraan saya salah besar. Lokasi Mbah Jingkrak sangat mudah ditemukan. Dari arah Surabaya tinggal mencari lokasi Sri Ratu, salah satu toserba besar di Madiun, dan sebelum Sri Ratu, tinggal belok kiri. Hanya beberapa puluh meter kemudian, lokasi Mbah Jingkrak langsung ketemu di kiri jalan. Tepatnya jaln Kalimantan 18, Madiun.

 

Gedungnya baru dengan penataan tradisional yang asri. Patung seorang nenek dengan pakaian khas Jawa yang menari berjingkrak berdiri tepat sebelum tangga ke lantai dua. Saya biasanya memilih di lantai satu saja yang cukup sejuk karena memang tanpa dinding pembatas. Sehingga hembusan angin cukup menyejukkan suasana. Tersedia pula meeting room di sana.Bila ingin sambil ber-wifi-ria, tinggal beli voucher, tergantung berapa lama Anda ingin berselancar.

Sedangkan menunya adalah khas Jawa yang jarang ditemui di Surabaya. Pengunjung tinggal memilih dan para penyaji telah siap melayani dengan ramah. Tapi hati-hati, menu-menu khas Jawa itu disajikan dengan pedas. Jadi, bila Anda tak menyukai rasa pedas, pastikan Anda bertanya terlebih dulu. Bila tidak, maka siap-siaplah berjingkrak

 

[kkpp, 31.03.08]